Bantuan pupuk sejak 2025 tidak pernah diterima

Nunukan, PembawaKabar – Dugaan peredaran pupuk palsu kembali mencuat di kalangan petani Kabupaten Nunukan. Salah satu anggota Kelompok Tani Misakada RT 14, Vincentius Deo, mengungkapkan bahwa dirinya dan beberapa petani lain sempat mengalami kerugian akibat menggunakan pupuk yang diduga tidak asli. Kejadian ini disebutnya sudah berlangsung sejak tahun lalu.
Saat ditemui wartawan PembawaKabar, Minggu 30/11/25). Vincentius menjelaskan bahwa pupuk yang mereka terima menunjukkan reaksi aneh saat diaplikasikan ke tanaman.
“Kejadian ini sudah agak lama, termasuk juga Pak RT kena. Kemungkinan ada enam atau tujuh karung waktu itu. Kami aplikasikan ke tanaman malah jadi kuning, padahal kalau pupuk asli itu langsung naik atau mekar,” ujarnya.
Ia menceritakan bahwa pupuk berwarna biru tersebut menunjukkan tanda-tanda tidak wajar ketika dikocok dan direndam.
“Biasanya kami pakai kocokan lalu direndam. Tapi pupuk yang palsu ini saat dikocok dan direndam berubah jadi seperti tanah. Birunya keluar, lalu di bawahnya keras seperti batu,” jelasnya.
Menurut Vincentius, pupuk itu mereka beli dari ketua kelompok tani dengan harga sekitar Rp135.000 per karung. Harga tersebut jauh di bawah harga pupuk asli yang menurutnya bisa mencapai lebih dari Rp500.000.
“Dibilang ini pupuk subsidi, entah dapat dari mana. Cuma peristiwa ini sudah agak lama. Kadang kami menyesal, tapi kami ini petani biasa, kami diam saja,” tambahnya.
Ia mengaku awalnya mengira hanya dirinya yang menerima pupuk tersebut. Namun, beberapa waktu kemudian rekan-rekannya juga mulai mengeluhkan hal yang sama.
“Saya kira cuma saya saja yang dapat pupuk seperti itu. Tapi teman datang bilang pupuknya berbeda saat diaplikasikan. Barulah saya tahu kami sama-sama pakai pupuk palsu,” kata Vincentius.
Selain masalah pupuk, Vincentius juga menyampaikan harapan kelompoknya agar mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Ia menyebut hingga kini Kelompok Tani Misakada belum menerima bantuan pupuk apa pun.
“Sekarang sudah agak bagus karena kami beli sendiri di toko, kualitasnya sesuai harapan. Tapi untuk bantuan dari pemerintah, kami belum pernah dapat. Yang kami pernah dapat hanya kultivator dan bibit,” tuturnya.
Namun bantuan bibit yang diterima pun dinilai sangat minim.
“Kelompok tani kami ada 20 orang. Bantuan bibit yang kami terima itu hanya sedikit, seperti kangkung cuma tiga sampai empat bibit saja. Padahal sebelumnya setiap orang bisa dapat satu bibit,” ungkapnya.
Vincentius berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi kelompok tani mereka, terutama terkait kebutuhan pupuk.
“Harapan kami, kalau bisa ada bantuan pupuk. Kami dengar ada kelompok tani lain yang dapat, tapi kelompok kami belum. Termasuk juga Kelompok Tani Arama Modern yang letaknya dekat kami juga belum dapat,” ujarnya menutup pembicaraan. (*)
